PERJUANGAN RARA MENCOKLIT MBAH TUMIJEM: KISAH PPDP DI MEDAN SULIT TRENGGALEK

  • Kategori: Headline
  • Dilihat: 294
Ratings
(1)

KPU-TRENGGALEKKAB.GO.ID— Pelaksanaan coklit sebagai tugas utama PPDP kali ini adalah pertama kali bagi Rara, nama panggilan dari Vera Kristayuana. Ibu muda  berumur 26 tahun yang punya anak kembar ini merasa senang sekali bisa bergabung membantu pelaksanaan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek tahun 2020. Meskipun belum pernah menjadi anggota PPDP, setidaknya ia pernah menjadi anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KKPS) dalam Pemilu 2019 lalu.

 Hari ini (Selasa, 21/07/2020) adalah hari keenam bagi Rara dalam melakukan coklit. Jalan yang dilalui secara umum sama, karena ia bertugas di daerah yang medannya tak bisa dibilang mudah, bahkan bagi Rara sendiri yang memang tinggal di desa yang sama. Desa Terbis kecamatan Panggul adalah desa yang terletak di punggung dan kepala pegunungan di kecamatan yang berada di kawasan selatan Trenggalek.

 Ada 9 TPS di desa ini. Rara bertugas di TPS 008. Untuk  bisa menyelesaikan tugasnya, Rara harus menjadwal terjun dari  keluarga ke keluarga. Pagi ini, sekitar pukul 08.00 WIB, ia bertekad untuk mendatangi rumah mbah Tamijem. Seorang perempuan yang umurnya sudah uzur itu konon hanya tinggal dengan suaminya yang juga sudah berumur senja, Mbah Katiman.

 Di sinilah kesabaran Rara harus diuji. Karena orang yang didatangi kali ini adalah orang dengan usia yang jauh berbeda. Sedangkan medan menuju rumah yang posisinya menyendiri dari pemukiman penduduk lain itu harus dilalui dengan jalan kaki. Setelah memarkir motor Vario di jalan rabat. Lalu ia  harus menuruni jalan setapak karena tak mungkin jalan turun menuju rumah Mbah Jem itu dilewati Motor.

 Awalnya ia melewati jalan kecil yang sebelahnya adalah ‘kalen’ (parit) di daerah perbukitan itu. Lalu ia harus menjumpai jalan setapak yang  dibalut batu-batu besar yang tak tertata rapi. Di sebelah jalan pohon-pohon jati tumbuh dengan besar batang seukuran Paha orang dewasa, ada dua atau tiga yang lebih besar seukuran tubuh orang dewasa.

 Jalan berbatu yang ditempuh Rara kira-kira  panjangnya 200 meter. Ia tampak harus berjalan pelan dan memiringkan badan, karena  telapak sepatunya harus memilih bagian jalan yang  batunya masih kokoh. Juga harus mengawasi jalan setapak itu agar telapak kakinya tidak menyandung batu-batu yang berserakan dan tanah mengunduk yang mengeras.

 Ujian kesabaran bagi perempuan lulusan jurusan akuntansi sekolah kejuruan di Jakarta ini benar-benar datang ketika ternyata ia tak menjumpai Mbah Jem dan suaminya tidak ada di rumah. Rumah di pinggir jurang yang bawahnya masih ada sawah itu sepi.  Rara menahan nafas, lalu masih mencoba menelisik apakah memang benar-benar tak ada orang sama sekali. “Saya lanjutkan dulu mencoklit ke keluarga lain. Tak apa-apa karena ini adalah resiko tugas”, kisahnya melalui WA pada tim Humas KPU Kabupaten Trenggalek. [Hupmas]

Artikel Terkait