previous arrow
next arrow
Slider

PERLUAS SOSIALISASI DAN PENDIDIKAN PEMILIH, IBU-IBU PKH JUGA DISASAR KPU TRENGGALEK

KPU-TRENGGALEKKAB.GO.ID— Pada Hari Jumat (12/04/2019) lalu, sekitar pukul 13.00 WIB, ibu-ibu yang menjadi penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Gandusari Trenggalek sudah berkumpul di rumah salah satu anggota. Banner acara yang menunjukkan acara apa yang akan diikuti hari itu sudah terpasang di tembok rumah, tepatya ruang tamu.

Sekitar pukul 13.15 tim sosialisasi dari KPU Kabupaten Trenggalek datang. Kemudian acara dimulai sekitar pukul 13.40 WIB. Acara hari itu adalah Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih untuk Perempuan dalam Pemilu Serentak 2019. Hadir sekitar 60-an ibu-ibu penerima manfaat program PKH dan Tenaga Pendamping yang berjumlah empat orang.

Selain dari KPU Kabupaten Trenggalek, dalam kegiatan ini juga hadir Kepala Seksi (Kasi) Sosial dari Kecamatan Gandusari yang juga memberikan sambutan dan membuka acara. Masuk ke pemaparan materi, Nurani dari KPU Kabupaten Trenggalek memaparkan berbagai pengetahuan tentang Pemilu 2019, mulai dari waktu pelaksanaan, pentingnya Pemilu, peserta Pemilu, teknis mencoblos yang benar dan cara mengenali surat suara yang jumlahnya lima, alasan tidak golput, hingga bahaya “politik uang”.

Dalam sesi teknik mencoblos yang benar, Nurani menunjukkan spesimen surat suara dan perbedaan dari kelima surat suara. Bukan hanya menjelaskan secara detail tentang teknik mencoblos yang sah dan tidak sah, ia juga memperkenalkan konsepsi Dapil. “Dapil Pilpres nasional, DPD Propinsi, DPRRI dan DPRD Propinsi dapilnya gabungan antar kabupaten kota, sedangkan Dapil DPRD Kabupaten Trenggalek adalah gabungan kecamatan”, papar Nurani.

Terkait konsep tentang Dapil, Nurani   juga mengingatkan tentang pentingnya fungsi keterwakilan. Ia mengingatkan agar keterwakilan berjalan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, komunikasi antara rakyat dengan wakil. Kedua, hindari politik uang. “Karena kalau kita dibeli di muka, berarti kita sudah merusak komitmen tentang penyatuan semangat antara politis yang harus mewakili secara tulus dan pemilih yang memilihnya tidak secara tulus—akhirnya tidak ada ketulusan dan keikhlasan dalam politik”, paparnya secara tegas. [Hupmas]